Postingan

Menampilkan postingan dengan label * * * * *

Fast X - Review

Gambar
Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah ...

Autobiography - Review

Gambar
Power play atau permainan kekuasaan itu nyata adanya, mulai dari tingkat negara, kabupaten, bahkan lingkup rumah tangga - atau bahkan pacaran. Kekuasaan diartikan sebagai kontrol asimetris terhadap sumber daya yang bermakna di hubungan sosial. Sumber dayanya bisa berupa status sosial, status ekonomi, jabatan, bahkan ras dan agama. Permainan atau dinamika kekuasaan terjadi ketika ada satu pihak yang menggunakan kekuasaannya terhadap pihak lain yang punya sumber daya yang lebih sedikit. Ini bisa terjadi antara suami dan istri, pak/bu RT dan warganya, calon bupati dan ajudannya, bahkan presiden dan rakyatnya. Dinamika dan permainan kekuasaan ini yang jadi topik utama dari debut film panjang pertama dari sutradara dan penulis naskah Makbul Mubarak. Sebagai seseorang yang memerhatikan perjalanan karir Makbul Mubarak dari jauh, gue cukup bangga atas pencapaiannya. Dari seorang penulis dan kritikus film, salah satu pendiri situs kritik dan kajian film Cinema Poetica, berbagai film pendek, dan...

Triangle of Sadness - Review

Gambar
Mungkin ini adalah salah satu film terbaik buat gue di tahun ini. Gue ngakak total nontonnya! Gokil! Salah satu pengalaman menonton terbaik, meski gue nonton cuma di laptop, dengan koneksi internet rumah sakit yang cupu, alhasil gambar jadi nggak tajam. Film ini jadi perjumpaan pertama gue dengan sutradara dan penulis naskah Ruben Ostlund, yang ternyata udah dua kali menang Palme d'Or di Cannes ya. Yang pertama lewat The Square (2017) dan jadi penasaran mau nonton.  Tapi siapa yang sangka sih Triangle of Sadness jadi film yang ngasih jari tengah buat kapitalisme dan komersialisme. Nonton ini mengingatkan gue banyak hal ke The Menu (2022), meski The Menu fokus ke industri kuliner. Nah Triangle of Sadness rasanya lebih luas lagi, dan mengeksplorasi banyak hal mulai dari jurang antar kelas sosial sampai cantik dan tampan yang jadi nilai tukar. Kayaknya itu ya arti dari pemilihan judul Triangle of Sadness, sebuah istilah dunia fashion di area antara alis dan hidung bagian atas. Sebuah...

Cha Cha Real Smooth - Review

Gambar
Wah kayaknya Cha Cha Real Smooth akan jadi salah satu film romansa - dan coming of age - favorit gue di tahun ini. Manis banget sampe gejala diabetes. Satu lagi tipikal film romansa dengan hubungan yang nggak jelas bahkan cenderung platonic. Meski jelas Andrew mungkin punya sindrom Elektra yang condong lebih suka sama wanita yang lebih tua. Tapi gue rasa film ini nggak cuma ngomongin soal cinta. Melainkan tentang hidup! Hidup di masa transisi menuju dewasa lebih tepatnya. Adulting is no joke as we know, dan pasti banyak dari kita yang baru lulus kuliah bingung mau ngapain. Masa transisi dari hidup yang penuh keteraturan dan otoritas dari institusi pendidikan ke hidup yang lebih bebas terhadap arah, visi, dan misi masing-masing. Mulai dari ganti-ganti pekerjaan, gimana cara menghadapi pelanggan dengan sopan, sampai bertanggung jawab dengan komitmen dan waktu. Nah romansa dapat porsi yang jauh lebih banyak ketimbang pekerjaan, karena gue rasa memang sisi ini yang jauh lebih relate denga...

Athena - Netflix Review

Gambar
Wah Athena jelas jadi salah satu film terbaik di tahun 2022 sih. Nyaris sempurna di semua segi, mulai dari visual sampai cerita. Sutradara Romain Gavras memilih konsep visual one take shot ala 1917 (2019) meski nggak full tapi dibagi dalam beberapa segmen. Setiap segmen fokus pada 1 karakter penting yang ngebawa jalan cerita.  Gue sih ngefans banget sama konsep one take long shot kaya gini karena nggak kebayang kompleks teknisnya! Mulai dari penempatan kameranya yang kayaknya dioper-oper dari dolly ke motor atau mobil ke crane. Belum lagi blocking pemain dan ratusan figuran yang ada. Gokil! Ceritanya juga simpel dan fiktif, tapi kita paham jelas bahwa kisah seseorang meninggal karena penanganan brutal dari pihak otoritas bukan berita baru dan sering terjadi di negara manapun. Athena jelas jadi pengingat yang getir dan keras, bukan hanya soal otoritas tapi juga kelas sosial dan betapa sensitifnya kita semua terhadap berita penganiayaan.  Begitu tahu ending yang lumayan twist, n...

Decision to Leave - Review

Gambar
Agak deg-degan sih mau nonton filmnya Park Chan-Wook, secara beliau kalau bikin film sesuka hatinya. Bisa setahun sekali, bisa empat tahun sekali. Film terakhirnya aja tahun 2016 lewat The Handmaiden . Tapi memang nggak sia-sia penantian kita semua sama film terbarunya. Apalagi kembalinya aktris Cina, Tang Wei, ke ranah arus utama dan diakui dunia internasional setelah Lust, Caution (2007) dan Blackhat (2015). Menonton Decision to Leave jadi pengalaman nonton yang sangat unik dan menarik. Filmnya indah, tapi menyedihkan. Kisah cintanya cantik, tapi toksik. Jalan ceritanya sederhana, tapi rumit karena menuntut peran aktif penonton untuk mengurai misteri yang ada. Segala keunyuan yang dihadirkan di tengah film, harus ditutup dengan pedih dan perih. Bahkan rasa perihnya masih nyisa ketika keluar studio. Visualnya sih yang ciamik maksimal. Sinematografinya unik dan indah maksimal, out of the box tapi kok ya masuk dan jadinya puitis. Apalagi visualisasi ciamik dari beberapa adegan pengi...

Everything Everywhere All at Once - Review

Gambar
Wow wow wow, the real multiverse of madness ! Sejak awal tahun, versi bajakan film ini udah beredar luas di internet sih. Tapi setelah gue tonton di bioskop, udah gila apa ya orang-orang berani-beraninya nonton ini di smartphone atau laptop atau tv??? Visualnya luar biasa banget dan jauuuuuh lebih bagus dan meyakinkan ketimbang film-film superhero Marvel dan DC. Apalagi setelah lo tahu kalau tim VFX-nya cuma 5 orang dan ngerjainnya di rumah selama pandemi. Karena fokus utama film ini emang bukan ke keajaiban CGI atau efek visual, tapi lebih ke kisah antara orang tua dengan anak yang sangat relate dengan kita semua. Pertama-tama harus gue akui, butuh hati dan pikiran yang agak terbuka untuk nonton film ini. Cara berceritanya sangat unorthodox , mulai dari ide ceritanya sendiri sampai ke eksekusi dan visualisasinya. Visual dan eksekusi adegannya penuh dengan imajinasi yang liar, yang bikin gue mikir ini duo Daniel Scheinert dan Daniel Kwan mabok jamur apaaaaaan coba. Kok ya bisa-bisanya ...

Gangubai Kathiawadi - Review

Gambar
Lagi-lagi hasil dari baca review dari orang-orang kepercayaan gue, Gangubai Kathiawadi yang baru masuk Netflix ini wajib untuk ditonton. Kalau nggak salah, film ini sempet mampir di bioskop tapi gue nggak sempet nonton atau malah nggak kena word of mouth -nya. Setelah gue tonton di Netflix, ya ampun betapa menyesalnya gue nggak nonton film ini di bioskop. Selain bagus banget, visualnya juga luar biasa cantik! Bener-bener menghidupi every frame is a painting . Ternyata ini adalah film biografi dari tokoh perempuan di India tahun 60-an. Materi ceritanya diambil dari salah satu bab dari buku Mafia Queens of Mumbai (2011) karya jurnalis Hussain Zaidi. Buku ini bercerita tentang tiga belas perempuan yang paling berpengaruh di Mumbai, dan salah satunya adalah Gangubai Kathiawadi, seorang pekerja seks komersial yang pada akhirnya menjadi pemilik salah satu rumah bordil di distrik Kamathipura. Entah syuting di studio dalam ruang atau luar ruang, tapi visual dalam film ini benar-benar memanjaka...

King Richard - HBO GO Review

Gambar
Terlepas dari kontroversi Will Smith menampar Chris Rock di Academy Awards 2022, jauh sebelum itu memang gue udah ngincer King Richard karena gue suka tipikal film olahraga yang inspiratif begini. Apalagi memang penampilan Will Smith dijagokan menang di berbagai penghargaan, dan pada akhirnya terbukti dia membawa beberapa piala dari berbagai penghargaan bergengsin termasuk Oscar. Lagipula siapa sih yang nggak kenal Venus dan Serena Williams, malah gue baru tahu ternyata sosok dibalik kesuksesan mereka berdua adalah ayahnya sendiri; Richard Williams. Berdurasi dua jam dua puluh empat menit, nggak pernah ada kata bosan selama gue nonton film ini. Gue bener-bener belum tahu perjalanan karir Venus dan Serena apalagi masa remaja mereka. Jadi nontonnya bener-bener penasaran dan lumayan terkaget-kaget ngeliat gimana kerasnya mereka latihan. Saking kerasnya latihan main tenis di bawah hujan-hujan, sampai dilaporin polisi sama tetangganya! Emang mulut tetangga lebih pedes ketimbang ayam geprek...

The Rescue - Disney+ Review

Gambar
Di tahun 2018, gue inget banget ada ramai pemberitaan penyelamatan 13 anak di gua Tham Luang di utara Thailand. Mereka terjebak di dalam gua yang terendam air karena musim hujan yang datang lebih cepat dari biasanya. Terjebak selama 18 hari, di mana hari ke-8 mereka baru ditemukan lokasinya. Yang keren adalah, tim penyelamatan ini dipimpin dan diekskusi oleh para cave divers dari seluruh dunia, yang spesialis menyelam di gua sebagai weekend hobby mereka aja! Ternyata para Navy Seals Thailand udah nyoba nyelam tapi gagal, ada yang jadi ikut terperangkap bareng anak-anak, ada yang meninggal di tempat juga karena kehabisan oksigen. Dari pemberitaan dulu sih gue kurang lebih inget alur dan perkembangannya. Dari yang udah seminggu belum ketemu, sampai ketemu dan anak-anaknya masih hidup meski nggak makan selama itu. Trus sampai anak pertama, kedua dan seterusnya yang berhasil diselamatkan ke luar gua. Tapi lewat dokumenter karya National Geographic ini, gue jadi tahu setiap langkap detil...

Spencer - Review

Gambar
Akhirnya kesampean nonton film ini secara legal, terima kasih Klik Film udah capek-capek akuisisi dan bawa film ini ke Indonesia. Meski nontonnya harus pake laptop dan pake kabel HDMI biar bisa nonton di TV, udah gitu buffering mulu setiap 15 menit buset padahal internet gue aman-aman aja. Semenjak Emma Corring jadi Lady Di muda di The Crown Season 4 , rasanya tuh standarnya semakin tinggi. Beruntung Kristen Steward nyaris sempurna banget di sini! Nggak sia-sia dia latihan aksennya selama enam bulan. Bahkan kata mantan chef di istana bilang kalau penggambaran Kristen Steward sebagai Lady Di adalah yang paling mirip, meyakinkan, sampai ke aksennya yang on point banget. Filmnya sendiri ternyata bukan tipikal biografi yang menceritakan kehidupan Lady Di dari masa ke masa. Spencer karya sutradara Pablo Larrain ini lebih fokus ke tiga hari Natal di mana keluargan kerajaan punya tradisi untuk family time di istana Sandringham, mulai dari makan bareng sampai menembak. Tapi ini adalah masa p...

Promising Young Woman - Review

Gambar
GAK HERAN MENANG BEST ORIGINAL SCREENPLAY OSCAR 2021! Sutradara dan penulis naskah Emerald Fennell emang ga kaleng-kalengan sih. Debut film panjang baik di sutradara dan penulisan naskah, langsung dapat nominasi di dua kategori itu di berbagai penghargaan bergengsi. Filmnya sendiri juga super unik dan gila banget sih. Kalau harus banget dibandingkan dengan Penyalin Cahaya, ini versi gila dan psycho-nya. Secara keseluruhan ternyata film ini dibawakan dengan cara yang ringan dan komikal. Efektif banget sih untuk bikin pengalaman menonton tema yang berat ini jadi menyenangkan dan mudah dicerna. Untuk tipikal film yang masuk berbagai nominasi di berbagai penghargaan bergengsi, jelas film ini jauh dari kata arthouse atau membosankan. Apalagi ada Bo Burnham yang gue baru kenal lewat standup special dia di Netflix, aslinya kan kocak ya dia. Gue suka banget dengan gimana film ini berangkat dari tema kekerasan seksual, dan dibawa ke ranah bagaimana cara para penyintas menjalani hidupnya bertahu...

A Hero - Review

Gambar
\ Akhirnya kesampean juga nonton filmnya sutradara dan penulis naskah Asghar Farhadi di bioskop! Dulu nonton A Separation (2011) yang ngebuat gue langsung ngefans sama beliau, cuma ditonton di Erasmus Huis di festival film Europe on Screen. Film-filmnya beliau selalu tipikal slice of life sih, tapi gue suka karena bisa ngintip seperti apa kehidupan di Iran. bercerita tentang Rahim Soltani, seorang ayah yang harus masuk penjara karena nggak bisa bayar hutang bisnis karena ditipu rekannya. Sepulang dari penjara, pacarnya nawarin koin emas yang ditemuin di halte bis. Sempat tergiur buat jual dan bayar sebagian utangnya, akhirnya Rahim mengembalikan koin emas itu ke pemiliknya. Tapi ternyata niat dan perbuatan baik tidak serta merta mendatangkan hal baik di dunia modern ini, apalagi era media sosial yang lebih mementingkan citra diri dan narasi ketimbang kebenaran hakiki. Ini adalah pengalaman nonton yang unik buat gue. Dari awal tuh emang agak roaming , ini siapa, kenapa di penjara, d...

Spider-Man: No Way Home - No Spoilers Review!

Gambar
Jadi Spider-Man ada berapa? Ada Tobey Maguire dan Andrew Garfield gak? Untuk pertanyaan-pertanyaan macam ini nggak bisa gue jawab di tulisan ini ya, karena gue mau ulasan gue bisa dibaca oleh semua orang mulai dari yang belum sampai yang sudah nonton. Nah buat yang penasaran banget, gue cuma bisa bilang berekpektasilah setinggi mungkin karena seperti rindu dan dendam - semuanya akan terbayar tuntas! Sebagai orang yang ngikutin Spider-Man dari jaman Tobey Maguire sampai Tom Holland, gue sih takjub banget sama No Way Home ini. Fix jadi film Spider-Man terbaik dari semua sih karena beneran jadi full circle yang sempurna dan emosional. Terutama untuk trilogi "Home"-nya Tom Holland, ini jadi penutup trilogi yang sangat-sangat baik. Gue juga berani bilang kalau No Way Home ini adalah " Endgame level "! Untuk tahun 2021, jelas No Way Home jadi film superhero terbaik menurut gue. Jangan khawatir, kata produser Amy Pascal kerja sama dengan Disney dan MCU masih akan berjalan...

Yuni - Review

Gambar
Yuni adalah potret sosial kompleks yang apa adanya dan vulgar tentang perempuan pada umumnya, dan perempuan yang hidup di ekonomi menengah ke bawah di rural Indonesia pada khususnya. Dengan dialog 100% menggunakan bahasa Jawa Serang, penonton dibawa untuk menyelami kehidupan Yuni di kota kecilnya. Keseharian Yuni yang sangat sederhana dari obrolan tentang seks di padang rumput sampai dengan ayah yang suportif saat sedang potong kuku di malam hari. Lengkap dengan komunitas kecil, warga lokal yang penuh gosip, sampai tetek bengek politik yang efeknya sangat terasa bagi mereka. Film ini memang tipikal menceritakan keseharian karakter utamanya yang setiap gerak-geriknya yang tak luput dari sebab-akibat pandangan sosial dan politik yang berlaku pada saat itu. Mulai dari perempuan mau jadi apa kalau tidak menikah sampai dengan wacana tes keperawanan dari pemerintah.  Hal yang gue sangat suka dari film Yuni adalah bagaimana kamera selalu fokus pada Yuni sepanjang film, dan perlahan m...

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas - Review

Gambar
Bajingan! Memang bajingan film ini, bajingan vulgarnya, bajingan juga bagusnya! Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas benar-benar jadi standar baru perfilman Indonesia di segala segi. Sangat well-made dan terasa bahwa film ini dibuat dengan hati. Sebuah kapsul waktu dan pengingat miris tentang kondisi sosio-politik yang memengaruhi rakyat kecil bahwa kekerasan dan maskulinitas adalah token yang berlaku di jalanan. Pertama-tama, film ini memberikan hiburan mata yang maksimal. Dunia tahun 1989-1990an sangat terpercaya berkat kombinasi brilian dari gambar hasil dari kamera seluloid, desain latar yang detil, kostum retro, sampai bahasa tubuh dan dialog para pemainnya. Nggak sulit untuk menyelami world building yang digambarkan Edwin x Eka Kurniawan dalam film ini, dan jadi pintu masuk yang nyaman untuk turut menyelami setiap karakter dan ceritanya. Dengan menggandeng penulis bukunya sendiri untuk turut menggarap naskah, rasanya aman bahwa alihwahana dari buku berjudul sama ke film a...

Last Night in Soho - Review

Gambar
Sebagai fans garis keras terhadap sutradara dan penulis naskah Edgar Wright, gue selalu suka setiap karyanya mulai dari Shaun of the Dead (2004) sampai yang terakhir Baby Driver (2017). Menurut gue, Edgar Wright adalah salah satu sutradara yang selalu ciamik dalam membuat komedi visual dan mencampurnya dengan alunan lagu-lagu yang stylish . Karya terbarunya di Last Night in Soho menurut gue jadi pencapaian terbaik dia, sekaligus nunjukkin evolusi yang sempurna dari filmmaker berbakat! Jelas ini adalah karya horor pertama dari Edgar Wright, ya Shaun of the Dead isinya zombie sih tapi kan lebih ke komedi. Udahlah horor meski baru berasanya di paruh kedua film, tapi seremnya beneran ngagetin karena sebegitu nyatanya. Bisa dibilang film ini nggak ngejual sebagai genre horor sih, lebih ke thriller atau crime. Tapi malah ini yang jadi pengalaman menonton yang asyik karena jadi ga bisa ngeduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Cerita yang ditawarkan mungkin bukan hal yang baru, tapi cara ...

The Haunting of Hill House - Series Review

Gambar
Nonton ulang dalam rangka selesai nonton Midnight Mass (2021) yang kuat banget mengangkat tema apa yang terjadi setelah kematian. Ternyata itu juga jadi tema utama di The Haunting of Hill House (2018) yang melejitkan nama sutradara dan penulis naskah Mike Flanagan. Meski di Midnight Mass , apa yang terjadi setelah kematian dikasih twist  yang gila, tapi di Hill House ini masih di ranah yang "mainstream"; ya jadi hantu tapi selamanya tinggal di rumah Hill. Ada beberapa hal yang gue baru sadar di kali kedua gue nonton ini, mulai dari detil kecil yang patung di rumahnya bisa nengok sampai ke beberapa monolog Poppy Hill yang ternyata nyeritain beberapa hantu yang ada di rumah itu. Oya monolog ini memang ciri khas Mike Flanagan ya, cara yang nggak biasa tapi ternyata efektif banget memperlambat tempo demi menciptakan atmosfer tegang sekaligus ganjil. Satu hal yang gue sangat suka dari Hill House adalah gimana Flanagan meromantisasi kehidupan setelah kematian bahwa ada loh beber...

The Medium - Review

Gambar
The Medium is creepy as fuck ! Ini kaya ngasih apa yang The Blair Witch Project (1999) ga bisa kasih di endingnya, tapi dinaikin bahkan lebih parah ketimbang endingnya Midsommar (2019)! Gue nggak expect juga horornya akan segrafis itu. Okelah masih gigit-gigit dan makan orang, tapi ini udah sampai ranah yang lain juga gila. Nggak kaleng-kalengan banget sih ini horornya, beneran weird, sick, and fucked up ! Tapi memang beginilah kalau dua master horor Asia bersatu; sutradara Banjong Pisanthanakun ( Alone, Shutter ) dari Thailand dan produser Na Hong Jin ( The Wailing ) dari Korea Selatan bekerja sama bikin horor paling bangsat tahun ini. Setengah film pertama memang perlu kesabaran ekstra karena banyak dialog dan minim horor, tapi jangan songong dulu karena itu semua akan berbalik 180' di klimaks yang bisa bikin gue tahan nafas dan mulut nganga sambil berujar what the fuck what the fuck what the fuck  berulang kali. Dari awal film, atmosfernya sudah dibuat seganjil mungkin. Horor ...

Dune - IMAX Review

Gambar
Dune versi sutradara Denis Villeneuve ini adalah adaptasi film kedua dari novel karya Frank Herbert tahun 1965, setelah yang pertama tahun 1984 oleh sutradara David Lynch gagal total. Konon memang sangat sulit mengadaptasi kisah Dune ini lantaran plot yang sangat kompleks. Bahkan Villeneuve sendiri memilih mengerjakan Arrival (2016) dan Blade Runner 2049 (2017) dulu untuk meningkatkan kemampuan dan pengalaman. Film adaptasi space opera sekompleks Dune memang sangat cocok berada di tangan dingin Villenueve dengan deretan ciri khasnya. Stylish, penuh visual yang cantik, scoring megah dari Hans Zimmer, dan gaya bercerita yang mudah untuk dimengerti menjadikan Dune sebagai tontonan sinematik yang sempurna. Menurut gue, adalah murtad menonton Dune di layar kecil seperti televisi atau bahkan telepon genggam. Banyak shot dan frame yang sebegitu indahnya layaknya lukisan yang terlihat megah di layar bioskop - bahkan IMAX. Gue udah nonton Dune versi David Lynch di Lionsgate Play dan sempet...