Postingan

Menampilkan postingan dengan label netflix

Fast X - Review

Gambar
Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah ...

Antara Eksplorasi Seksual dan Mutilasi Genital - Ulasan Dear David

Gambar
Indonesia jadi negara keempat terbanyak di dunia yang masih melakukan praktik sunat perempuan, atau dalam dunia medis diklasifikasikan sebagai mutilasi genital. Bagi kelompok tertentu, sunat perempuan dipercaya dapat mengendalikan nafsu, gairah, dan birahi perempuan agar tidak terjerumus pada seks bebas atau kehamilan yang tidak diinginkan. Tapi tidak ada penelitian medis yang membuktikan adanya hubungan antara sunat perempuan dengan gairah perempuan.  Bahkan praktik sunat perempuan lebih berdampak buruk pada kondisi fisik, seperti risiko pendarahan postpartum, kematian janin, persalinan macet, dan lain sebagainya. Lagipula, apa iya itu satu-satunya cara menahan gairah dan hawa nafsu? Apa manusia, khususnya remaja sebagai masa puncak perkembangan hormon dan psikologis, tidak boleh memiliki hawa nafsu? Apa manusia memang sebodoh itu dengan nggak punya cara konstruktif dalam mengendalikan gairah dan birahi? Salah satu cara konstruktif untuk mengendalikan hawa nafsu yang sedang meleda...

Incantation - Netflix Review

Gambar
Kenapa juga sih mesti bawa-bawa " Film horor Taiwan paling seram ", artinya film-film horornya Taiwan nggak ada yang serem dong ya. But well oke lah mengingat industri film Taiwan yang konsisten meningkat kualitasnya.   Tapi nonton Incantation, gue nggak henti-hentinya ngebandingin sama The Medium. Ya bisa dibilang ini adalah The Medium versi Taiwan. Horornya sama-sama mengambil sudut pandang agama dan penganutnya, sama-sama pula dibungkus dengan gaya mockumentary. Satu setengah jam pertama nyaris membosankan karena story building yang lamban dan agak repetitif. Untungnya dibayar di 30 menit terakhir yang gaspol seremnya. Ada lah satu-dua adegan jump scare yang bikin gue loncat dari kursi. Apalagi adegan akhirnya yang bikin kepikiran sampai sekarang. ---------------------------------------------------------- review film incantation review incantation incantation movie review incantation film review resensi film incantation resensi incantation ulasan incantation ulasan film in...

Hustle - Netflix Review

Gambar
Gue selalu suka sama tipikal drama from-zero-to-hero kaya gini, apalagi di dalam genre sport. Film-film olahraga itu emang unik karena pasti nyentil yang namanya passion sampai ke ranah obsession. Untungnya Hustle masih bermain di passion dan menekankan di latihan keras untuk mencapai tujuan - well sesuai judulnya. Jadi atlet itu emang beneran bukan cuma fisik, tapi mental juga mesti digeber pol ya. Dari film ini gue belajar bukan cuma mental juara yang mesti diselami, tapi juga nahan emosi. Pemain lawan pasti banget mancing emosi, dan itu udah natural apa adanya. Jadi ya dari kitanya aja mesti sebodo teing. Adam Sandler emang kayaknya lebih cocok main di film drama serius kaya gini deh. Gue sih udah langsung skip ya kalau dia main di film komedi romantis yang wajib ada adegan pantai ala Warkop DKI. Dari Punch-Drunk Love (2002) sampai ke Uncut Gems (2019) udah keliatan sebenernya kalau dia tuh aktor berbakat. Tapi kenapa yak mayoritas filmnya mesti ke komedi receh gitu. Sayangnya gu...

Vivo - Review

Gambar
Akhirnya Sony Pictures Animation berani juga nyemplung di film animasi musikal. Kayaknya udah makin pede ya nggak cuma kualitas gambar animasinya aja yang udah makin menyaingin Disney dan Pixar, tapi kali ini juga bermain di lagu dan nyanyian sebagai pengganti dialog. Sayang banget sih harus ditonton di layar tv dan bukan layar bioskop. Deretan lagu dan lirik yang ditulis oleh si jenius musikal Lin-Manuel Miranda benar-benar jadi daya tarik utama gue dalam nonton film ini. Masih aja melodinya sangat catchy di telinga dengan lirik asyik yang berirama. Apalagi Vivo berlatar belakang Cuba (dan kemudian Florida sampai Miami), jadi tema utama musik yang ada adalah Cuban Jazz yang asyik banget buat joget!  Beberapa lagunya itu keliatan banget ciri khas Lin-Manuel Miranda, kaya bebereapa nada mirip banget sama beberapa lagu di Hamilton dan juga Washington Heights. Setiap nyanyian dan karakter yang bernyanyi sangat mengingatkan gue akan band jazz asal Kuba yang terkenal; Buena Vista Social...

Fear Street Part 3: 1666 - Review

Gambar
Ternyata part ketiga ini jauh lebih cadas ketimbang dua prekuel yang lain. Penulisan naskahnya lumayan cerdas karena twist yang ada ternyata bikin kita mau nonton ulang trilogi thriller ini. Cakep sih karena sekuel ketiga ini nggak hanya berlaku sebagai prekuel tapi juga sebagai sekuel untuk menutup kutukan Sarah Fier. Kisah Sarah Fier di tahun 1666 benar-benar mindblowing  yang nggak cuma berisi rentetan plot twist tapi juga kenyataan sifat dasar manusia yang mudah terhasut dan terpengaruhi. Meski bukan kisah baru, tapi kisah orang-orang yang terpengaruh hoax atau fake news ini rasanya tidak akank pernah basi. Malah semakin relevan di situasi pandemi seperti sekarang ini. Yang paling ironi adalah efek negatifnya bertahan hingga 3 dekade kemudian. Bagi para fans slasher/gore mungkin akan terpuaskan di sekuel ketiga ini. Nggak kaleng-kalengan kaya A Classic Horror Story (2021) tapi juga ngasih darah yang lebih dari dua sekuel sebelumnya. Kisah misterinya juga seru dan bikin pena...

A Classic Horror Story - Netflix Review

Gambar
Hype film ini udah dimulai sejak teaser trailernya, setidaknya bagi para fans Hereditary/Midsommar ya. Setelah gue tonton, bener sih ini Italian Midsommar banget. Dari banyak ulasan yang bilang kalau film ini banyak banget berisi referensi film-film horor thriller lainnya, menurut gue justru malah ini disengaja dan memang bertujuan untuk itu. Plot twist-nya sendiri yang bilang kalau ini adalah carbon copy dari film-film horor dan thriller kebanyakan. Jujur gue nontonnya sempet ketiduran sih karena saking lambannya. Ironi banget sih mengingat ada unsur gore atau slasher yang berdarah-darah di film ini. Tapi semua antisipasi gue akan sadis-sadisan ini nggak terbayar dengan baik karena nggak grafis sama sekali doooong. Sama sekali nggak dikasih liat itu mata dicongkel atau kuping diiris. Kaya males banget gitu bikin efek praktikal atau bahkan efek visual. Satu-satunya yang gue puji hanyalah plot twist yang ciamik dan lumayan bikin mangap. Sakit jiwa banget sih emang plotnya meski bukan ha...

How I Became a Superhero - Netflix Review

Gambar
Buat gue plotnya sangat menarik! Kaya campuran antara Watchmen dengan Project Power. Kisahnya lebih ke masyarakat Perancis yang sudah terbiasa hidup dengan pahlawan super, bahkan ada spesialis psikolog khusus untuk manusia berkekuatan super. Tapi masalah muncul ketika ada satu orang yang bisa ekstrak buah manggis darah pahlawan super dan dijadikan obat hirup. Orang biasa kalau menghirup obat itu bisa punya kekuatan super yang lama. Seru ya! Ceritanya diambil dari sudut pandang seorang detektif beserta partner barunya yang menginvestigasi pelaku dan pengedar obat tersebut. Jadi jalan cerita metode investigasinya lumayan seru untuk diikuti sampai semua tabir misteri terungkap. Untuk kostum pahlawan supernya emang agak gimana gitu ya tapi ya udah lah gapapa toh juga ini French take untuk genre superheroes. Yang gue suka dari film ini adalah gimana mereka bisa memanusiakan manusia super. Nah loh gimana tuh ya. Ya pada dasarnya manusia super hanyalah manusia yang punya kekuatan super. Kek...

Fear Street Part 2: 1978 - Review

Gambar
Gue malah lebih suka Part 2 di tahun 1978 ini ketimbang Part 1 di tahun 1994. Mungkin karena bagian kedua ini fokus pada satu lokasi tempat kemping musim panas dengan anak-anak hingga remaja nyebelin yang jadi korbannya. Nah bagian kedua ini merupakan homage untuk film-film pembunuhan tahun 70-an dan mukanya Sadie Sink dari Stranger Things ini memang bawaan jadul ya jadi pas banget aja gitu untuk latar tahun segitu. Kalau di Part 1: 1994 unsur gory-nya baru nongol di akhir, maka di Part 2: 1978 sudah mulai berdarah-darah dari tengah. Iya awalnya masih sibuk bangun cerita dan relasi antar karakter, termasuk mitos si penyihir Sarah Fier. Yang gue suka adalah di Part 2 ini mitologi kisah Sarah Fier dibuka lebih lebar lagi jadi kita bisa tahu - dan melihat - lebih banyak tentang kutukan sihirnya yang tidak mengenal waktu. Untuk lagu-lagunya masih tetap catchy meski gue udah mulai roaming karena nggak terlalu familiar dengan lagu-lagu tahun 70-an, alias kurang tua. Cara berceritanya sendi...