Postingan

Menampilkan postingan dengan label superheroes

Fast X - Review

Gambar
Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah ...

Guardians of the Galaxy Volume 3 - Review

Gambar
Guardians of the Galaxy Volume 3 adalah kado perpisahan yang manis dan nyaris sempurna dari sutradara dan penulis naskah James Gunn, sebelum menyebrang ke semesta DC. Volume 3 ini berhasil menutup trilogi GotG dengan sangat baik dan penuh dengan hati. James Gunn juga konsisten fokus mendalami setiap karakter yang ada dalam film ini, tanpa perlu memberi celah crossover dengan film MCU lainnya. Malah menurut gue, GotG ini adalah salah satu trilogi terbaik dalam MCU dengan perkembangan karakter yang sangat dalam dan signifikan. Durasi dua setengah jam nggak berasa sama sekali dengan tempo bercerita yang terbilang cepat. Lamanya durasi ini juga dimanfaatkan dengan sangat baik untuk mendalami setiap karakter yang ada. Praktis setiap karakter punya porsi berlebih dan kita bisa melihat perkembangan karakter yang signifikan, baik dari awal hingga akhir film ini maupun dari GotG pertama.  Pilihan soundtracknya juga nggak kalah kece. Memang pilihan lagu dari era 80an dan 90an ini yang jadi ...

Shazam Fury of the Gods - Review

Gambar
Harus gue akui, Shazam kedua ini jauh lebih baik daripada film pertamanya. Ceritanya lebih gemuk dan bisa ngasih porsi ke semua pemeran pendukungnya. Porsi cerita bahkan sempat ngasih perkembangan karakter ke tokoh antagonis! Tentunya ada perkembangan karakter yang signifikan pada Billy Batson. Tapi semua ini punya konsekuensi pada durasi film yang membengkak ke 2 jam 10 menit. Kalau belum nonton atau bahkan lupa sama film pertamanya apakah bisa menikmati Shazam! Fury of the Gods ini? Jujur gue sendiri pun lupa dengan film pertamanya, yang gue inget hanya Billy Batson dapat kekuatan dewa dari penyihir, dan bisa jadi pahlawan super dengan ngucapin mantra. Tapi gue masih bisa menikmati film keduanya dengan baik. Rasanya ini udah jadi standar baru Hollywood dalam membuat film sekuel ya, dengan nggak mengasingkan penonton yang nggak ngikutin franchise-nya. Tapi jadinya kesinambungan cerita itu dimasukkan sebagai easter eggs. Apakah Shazam! Fury of the Gods merupakan film pahlawan super ya...

Virgo and the Sparklings - Review

Gambar
Film ketiga dari Bumilangit Cinematic Universe ini kok hype-nya berasa paling rendah di antara Gundala dan Sri Asih ya. Apalagi kayaknya perolehan tiket penontonnya jadi yang paling rendah. Semoga dengan hasil yang paling rendah ini nggak menghentikan proyek semesta Bumilangit ya. Meski gue sendiri juga nggak terlalu menikmati Virgo & The Sparklings ini karena rasanya memang bukan gue target marketnya. Di Sri Asih gue komplen tentang filmnya yang terlalu serius sehingga mengalienasi potensi penonton remaja perempuan. Ternyata memang ada Virgo & The Sparklings yang untuk menjaring penonton remaja perempuan, dan rasanya pun berhasil. Tapi jadinya nggak bisa ditonton oleh semua umur dan kalangan. Nonton ini tuh gue sama sekali nggak relate, dan jadi kaya nonton film-film remaja SMA Indonesia kebanyakan - meski kali ini ada unsur pahlawan super. Banyak banget dialog di film ini yang gue nggak bisa denger mereka ngomong apa, karena banyak teriak-teriak dan artikulasinya jadi berant...

Sri Asih - Review

Gambar
Setelah ngeliatin promonya dan proses Pevita Pearce nge-gym dan latihan bela diri, akhirnya ditonton juga nih. Secara linimasa, peristiwa Sri Asih terjadi sebelum Gundala (2019) . Jadi kita sekali lagi dipertontonkan origin story dari pahlawan adiwira Indonesia perempuan. Tapi sayang, rasanya filmnya terlalu dewasa dan jadi hilang kesempatan untuk menarik dan menginspirasi anak-anak perempuan. Di titik ini udah jelas bahwa visi bang Joko dalam membangun Jagat Sinema Bumilangit lebih ke arah DC Cinematic Universe yang gelap, dewasa, dan penuh politik. Meski unsur politiknya nggak seberat Gundala, Sri Asih fokus membangun jagat sinemanya dengan menceritakan musuh besar dan para panglimanya. Nggak ada adegan yang ringan atau mengandung komedi, pokoknya semuanya berat. Hal yang gue nggak suka adalah scoringnya. Maaf ya Aghi Narottama, Bemby Gusti dan Tony Merle. Menurut gue, scoringnya terlalu berisik dan monoton. Saking kencengnya sampai menutupi dialog. Lalu pilihan nadanya monoton juga...

Black Panther: Wakanda Forever - Review

Gambar
Wah Wakanda Forever sih bagus bener loh! Ekspektasi gue itu udah turun naik gara-gara nggak sabar bacain beragam review yang ada. Tapi emang yang paling bener ya nonton dan buktiin sendiri. Dengan dua jam empat puluh menit sih gue puas banget.  Menurut gue ini bukan film pahlawan super sih, tapi film drama keluarga yang menghadapi kedukaan atau grief. Kalau semua kekuatan super, pahlawan super, teknologi tinggi dihilangkan, Black Panther: Wakanda Forever akan tetap jadi film yang kuat, solid, dan punya pesan moral yang berharga buat kita semua. Ngegas pula buat ngasih tribute ke alm. Chadwick Boseman.  Buat yang berharap akan dihibur dengan aksi hingar-bingar layaknya tipikal film Marvel Cinematic Universe lainnya, siap-siap kecewa deh. Adegan action dan berantem dan kejar-kejaran emang masih ada, tapi porsinya sedikit. Sekuel dari Black Panther ini memang fokus ke proses grieving yang dialami oleh keluarganya T'Challa. Yang gue suka, sutradara dan penulis naskah Ryan Coogler ...

Black Adam - Review

Gambar
Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. DC Universe sukses ngegandeng The Rock untuk jadi karakter anti-hero yang langsung dapet film solo; Black Adam. Ya bisa dibilang kalau dunia DC kayaknya lebih sukses karakter anti-hero ya ketimbang heronya sendiri, mulai dari Suicide Squad, Joker, sampai Black Adam ini. Anyway, karakter Black Adam ini punya kekuatan yang sama dengan Shazam. Sama-sama harus bilang "shazam!" untuk dapetin dan ngelepasin kekuatannya. Kesan pertama gue nonton Black Adam : berisik! Buset berisik banget dah. Entah volume di bioskopnya yang kegedan, atau sound mixing di film ini yang main timpa semua suara yang ada. Scoring dan efek suaranya berlomba buat jadi yang paling keras. Hasilnya nggak enak di telinga. Sayang banget padahal pilihan lagunya udah oke. Ceritanya sendiri termasuk biasa saja. Masih dalam formula origin story dan pesan repetitif "pahlawan atau bukan ditentukan dari tindakan, bukan label". Beneran deh repetitif banget karena dialog...

Thor: Love and Thunder - Review

Gambar
Film ke-29 di Marvel Cinematic Universe ini seakan mengambil rehat dari plot multiverse dengan fokus pada kisah Thor. Meski masuk dalam Phase 4, tapi dari film ini - termasuk post-credit scenes - sama sekali tidak memberikan kontribusi dalam perkembangan Phase 4. Menonton film solo keempat Thor ini buat gue terasa melelahkan. Gue seakan sudah bosan dengan kisah Thor yang perkembangan karakternya terlihat sudah selesai di film ketiga dan Avengers: Endgame . Praktis film keempat ini yang menghibur hanya akting Christian Bale yang luar biasa menakutkan. Natalie Portman sebagai The Mighty Thor buat gue hanya keren-kerenan aja seakan lagi cosplay. Setiap film Thor arahan Taika Waititi memang selalu kocak dan menghibur. Setiap adegan aksi selalu diselingi dengan humor receh yang mengundang tawa. Bahkan elemen humornya terasa lebih banyak di Love and Thunder . Tapi kok ya gue nggak terlalu terhibur dengan komedi yang ada. Beberapa soundtrack dari lagu-lagu populer macam Guns 'n Roses m...

Satria Dewa Gatotkaca - Review

Gambar
Setelah drama yang terjadi di balik PH Satria Dewa Studio, akhirnya rilis juga film pertama dalam jagat sinema satria dewa; Gatotkaca . Pemain-pemainnya memang nggak sepopuler jagat sinema sebelah, Bumilangit. Tapi sepertinya jagat sinema Satria Dewa memosisikan diri layaknya Marvel yang ringan dan bisa diakses semua umur, sementara Bumilangit layaknya DC yang gelap, kelam, dan lebih dewasa. Dari sensor Semua Umur di Satria Dewa Gatotkaca, hal ini juga konsisten dengan gaya penceritaan film ini yang ringan dan menyenangkan. Banyak adegan yang memancing tawa penonton, dengan jalan cerita yang sederhana dan nggak berbelit. Well ada dua-tiga penjelasan mitologi yang terlalu banyak, tapi pada akhirnya gue pun memilih menyerah pada keadaan dan menikmati jalan cerita. Di segi visual, keliatan banget sutradara Hanung Bramantyo memilih style, yang sayangnya jadi style over substance . Nyaris semua shot dibuat banyak warna-warni neon, tapi ada beberapa adegan yang malah jadi terlalu gelap. Saki...

Doctor Strange in the Multiverse of Madness - No Spoiler Review

Gambar
Memang nggak salah lagi deh Sam Raimi yang megang Doctor Strange in the Multiverse of Madness sebagai sutradara. Semua elemen horornya keluar maksimal, nggak tipis-tipis kaya di trilogi Spider-Man versi Tobey Maguire. Bahkan MCU boleh berbangga bahwa akhirnya punya film superhero bergenre horor. Yang mau ajak anaknya nonton, dipikir-pikir dulu ya. Film ke-28 di MCU ini tadinya malah mau dirilis duluan ketimbang Spider-Man: No Way Home , tapi karena pandemi jadinya tukeran jadwal rilis. Tapi keputusan ini malah bikin hype-nya agak turun menurut gue. Setelah No Way Home dengan cameo yang spektakuler itu, kita semua pasti berharap adanya cameo yang kalau nggak menyamai ya lebih pecah lagi di Multiverse of Madness.  Mungkin juga karena sudah banyak bocoran di media sosial, setiap kemunculan cameo di sini menurut gue malah jadi biasa aja. Nggak bikin gue kaget dan tepuk tangan gitu kaya di No Way Home. Malah Sam Raimi tergolong sadis ya, karena berani membunuh nggak cuma satu-dua karakt...

The Batman - Review

Gambar
Pertama-tama, mari menerima kenyataan dulu bahwa film Batman tidak akan berhenti diproduksi oleh Warner Bros - meski ganti aktor ratusan kali pun. Kenapa? Ya duit lah. Bukan cuma hasil dari penjualan tiket dan subscription di HBO GO/MAX aja, tapi penerimaan paling besar datangnya dari merchandise.  Iya, jualan merchandise Batman itu sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari teman-teman Avengers di toko sebelah. Jadi ya nggak heran kalau banyak yang klaim bahwa Batman adalah pahlawan super yang paling terkenal. Masuk nonton The Batman dengan durasi tiga jam kurang lima menit, gue datang tanpa ekspektasi apapun. Hasilnya gue sangat terpuaskan dan terkagum-kagum. Menurut gue The Batman versi Matt Reeves ini bukan film superhero, tapi film psychological-thriller noir . Jauh banget dari hingar binar kaya semesta sinema toko sebelah.  The Batman fokus ke kisah detektif dan  investigasi pembunuhan berantai yang dilakukan The Riddler, di tengah kota Gotham yang gelap, penuh korups...

Spider-Man: No Way Home - No Spoilers Review!

Gambar
Jadi Spider-Man ada berapa? Ada Tobey Maguire dan Andrew Garfield gak? Untuk pertanyaan-pertanyaan macam ini nggak bisa gue jawab di tulisan ini ya, karena gue mau ulasan gue bisa dibaca oleh semua orang mulai dari yang belum sampai yang sudah nonton. Nah buat yang penasaran banget, gue cuma bisa bilang berekpektasilah setinggi mungkin karena seperti rindu dan dendam - semuanya akan terbayar tuntas! Sebagai orang yang ngikutin Spider-Man dari jaman Tobey Maguire sampai Tom Holland, gue sih takjub banget sama No Way Home ini. Fix jadi film Spider-Man terbaik dari semua sih karena beneran jadi full circle yang sempurna dan emosional. Terutama untuk trilogi "Home"-nya Tom Holland, ini jadi penutup trilogi yang sangat-sangat baik. Gue juga berani bilang kalau No Way Home ini adalah " Endgame level "! Untuk tahun 2021, jelas No Way Home jadi film superhero terbaik menurut gue. Jangan khawatir, kata produser Amy Pascal kerja sama dengan Disney dan MCU masih akan berjalan...

Venom: Let There Be Carnage - Review

Gambar
Gue sebenernya nggak terlalu cocok dan suka dengan Venom yang pertama . Tapi ya karena Carnage baru hadir di sekuel yang kedua ini - diperankan pula oleh Woody Harrelson - gue pun tertarik. Apalagi yang namanya film superhero di mana Sony sedang mempersiapkan universe baru, jadi rasanya sayang ya untuk melewatkan yang satu ini. Harus gue akui, yang kedua ini jauh lebih baik daripada yang pertama. Semua kesalahan minor dan klise yang ada di film pertama praktis nihil. Jalan cerita bergerak logis dan masuk akal jadi cukup meyakinkan untuk menikmati cerita yang ada. Elemen leluconnya juga masih sama besarnya dan gue cukup ngakak di momen Mrs. Chen. Tapi ya gitu, kok menurut gue datar aja ya. Franchise Venom ini mungkin karena masih premature, jadi belum bisa menandingi kualitas yang sudah diberikan oleh Marvel dan DC. Mungkin karena gaya bercerita yang sedikit terburu-buru supaya bisa cepat sampai ke adegan klimaks. Atau menurut gue karena banyak adegan komedi yang off dan nggak berhasil...

Eternals - Review

Gambar
Setelah drama tarik ulur sensor-sensoran minggu lalu, akhirnya Disney ngalah juga. Nggak cuma satu tapi total tiga adegan bibir ketemu bibir yang dipotong demi memuaskan hasrat LSF. Kocak sih ini kaya mau main aman banget tapi ya udah lah yang penting kita penonton udah bahagia bisa nonton Eternals di layar lebar. Yes banyak adegan yang disyut dengan kamera IMAX meski nggak 100% jadi asyik banget sih ditonton di IMAX. Untuk filmnya sendiri, kok gue ngerasa Chloe Zhao kena big budget syndrome ya. Biasa megang film no to low budget , sekalinya dikasih budget fantastis kok jadi gitu. Sebenernya menurut gue permasalahan utama ada di storytelling , di mana Eternals ini nyeritain SEMBILAN karakter utama pahlawan super yang semuanya baru buat penonton (setidaknya yang nggak baca komiknya).  Gue paham sih idealismenya untuk menceritakan sembilan-sembilannya sama rata tanpa salah satu yang menonjol - dan ini berhasil. Tapi sayangnya jadi nggak efektif karena dicampur aduk dengan misi dan a...

Black Widow - Review

Gambar
Film ke-24 dari Marvel Cinematic Universe ini harusnya jadi pembuka dari Fase Ke-4, tapi akhirnya jadi Shang-Chi yang jadi pembuka karena pandemi. Kejadian di dalam Black Widow ini terjadi setelah Civil War dan sebelum Infinity War, terlihat dari rambu merah dan rambut pirang dari Natasha Romanoff. Buat yang ngefans sama karakter Black Widow, rasanya susah untuk nggak jatuh hati dengan film ini. Seperti yang terlihat di trailer, film ini nggak cuma ngasih lihat Natasha Romanoff menumpas kejahatan tapi juga ngeliat hubungan dia dengan "keluarganya". Jadilah film pahlawan super dengan penuh hati. Tipikal dengan film-film MCU lainnya, Black Widow ini juga penuh dengan lelucon yang kocak. Terhitung lumayan banyak ya kaya nyaris setiap 10 menit ada leluconnya. Lumayan banget sih bikin filmnya tambah ringan dengan latar belakang cerita yang terbilang gelap; organisasi Widow yang melatih anak-anak perempuan jadi pembunuh berdarah dingin. Gue mau memuji Florence Pugh di sini karena...

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings - Review

Gambar
Film ke-25 dan pembuka Fase 4 dari Marvel Cinematic Universe ini akhirnya bisa kita tonton di layar lebar! Momennya sangat pas dengan Hollywood yang lagi asyik-asyiknya mengangkat karakter Asia ke layar lebar. Sebelumnya MCU juga sudah membuktikan lewat Black Panther bahwa menyajikan mayoritas karakter dari ras non-white terbilang sangat berhasil. Buat gue pribadi, senang sekali melihat Simu Liu akhirnya jadi pemeran utama setelah sebelumnya berperan di 5 musim Kim's Convenience. Menurut gue, Shang-Chi ini beneran nggak seperti film MCU - in a good way!  Pertama adalah lebih dari setengah film ini berbahasa Mandarin. Lalu kalau nggak ada cameo dari Wong dan beberapa cameo kejutan lainnya, rasanya gue pun nggak sadar bahwa film ini satu semesta dengan Avengers. Apa yang bikin beda ya? Ini memang tipikal film origin story , tapi feel -nya beneran kaya film-film Asia lainnya yang kental dengan tradisi dan keluarga. The whole film is about family , bahkan penjahat utamanya sendiri be...

The Suicide Squad - IMAX Review

Gambar
Dalam rangka kembali ke bioskop sejak dua bulan tutup, film pertama yang gue pilih untuk ditonton adalah The Suicide Squad . Di linimasa lumayan ramai diomongin pas dulu awal rilis karena banyak mengundang ulasan positif baik dari penonton dan kritikus film. Biar nggak bingung, ini bukan official sequel dari Suicide Squad (2016) karya David Ayer tapi lebih ke reboot . Tapi setelah gue tonton, ini sih bisa dibilang sekuel yang ngelanjutin cerita tahun 2016 itu dari beberapa clue yang ada seperti Harley Quinn udah ikrib sama Captain Boomerang dkk.  Menarik ngeliat gimana James Gunn yang dikasih kepercayaan penuh sama Warner Bros. Dia memilih karakter-karakter penjahat yang kurang terkenal demi selaras dengan penulis komiknya John Ostrander. Seperti ada ironi tersendiri tentang penjahat super yang bahkan nggak jago berbuat jahat. Hal ini yang sangat terlihat di sepanjang film dan yang bikin kocak serta punya hati yang kuat. Ini juga yang membuat kita para penonton akan sangat mudah u...

How I Became a Superhero - Netflix Review

Gambar
Buat gue plotnya sangat menarik! Kaya campuran antara Watchmen dengan Project Power. Kisahnya lebih ke masyarakat Perancis yang sudah terbiasa hidup dengan pahlawan super, bahkan ada spesialis psikolog khusus untuk manusia berkekuatan super. Tapi masalah muncul ketika ada satu orang yang bisa ekstrak buah manggis darah pahlawan super dan dijadikan obat hirup. Orang biasa kalau menghirup obat itu bisa punya kekuatan super yang lama. Seru ya! Ceritanya diambil dari sudut pandang seorang detektif beserta partner barunya yang menginvestigasi pelaku dan pengedar obat tersebut. Jadi jalan cerita metode investigasinya lumayan seru untuk diikuti sampai semua tabir misteri terungkap. Untuk kostum pahlawan supernya emang agak gimana gitu ya tapi ya udah lah gapapa toh juga ini French take untuk genre superheroes. Yang gue suka dari film ini adalah gimana mereka bisa memanusiakan manusia super. Nah loh gimana tuh ya. Ya pada dasarnya manusia super hanyalah manusia yang punya kekuatan super. Kek...