Postingan

Menampilkan postingan dengan label thrillers

Fast X - Review

Gambar
Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah ...

Missing - Review

Gambar
Masih ingat sama Searching (2018)? Film yang sepanjang filmnya menggunakan layar komputer, layar smartphone, CCTV, dan gawai lainnya. Film dengan budget murah tapi bisa meraup untung sebanyak-banyaknya. Jelas akan ada film-film selanjutnya ya. Missing ini bukan sekuel tapi berada dalam satu semesta yang sama, dan membawa kisah misteri kriminal yang nggak kalah seru! Lima tahun berlalu tapi jelas teknologi sudah berkembang pesat, dan kita bisa lihat dengan jelas lewat Missing. Kali ini ada tambahan smartwatch yang punya peran penting dalam jalan cerita. Entah lima tahun ke depan mungkin ChatGPT atau teknologi AI lainnya yang akan ikutan. Tapi layaknya teknologi, mereka hanyalah instrumen dan tetap manusia berperan utama dalam menggunakan dan memaksimalkannya untuk mencapai tujuan. Kalau Searching punya twist yang gurih di akhir film, maka Missing punya twist yang berlapis! Ini jelas cocok untuk kalian para pecinta film dengan twist. Apalagi jalan ceritanya efektif mengajak penonton unt...

M3gan - Review

Gambar
Wah ini suprising banget sih. Dari poster dan trailernya aja gue udah nggak tertarik nonton. Tapi dari ulasan beberapa teman kepercayaan, gue coba nonton dan ternyata bagus! Nggak cuma menegangkan tapi M3gan punya jalan cerita yang meyakinkan. Biasanya kan film tipikal kaya gini ceritanya cuma tempelan aja, tapi nggak dengan ini. Ceritanya beneran digarap serius, kemudian elemen horor, thriller, dan gore jadi gampang memengaruhi penonton. Yang paling taik emang M3gan sih. Sukses ngebuat film nggak cuma seru tapi juga kocak dan menghibur! Gue nggak nyangka bisa ketawa-ketawa di film horor kaya gini. Absurdnya sih lebih ke koplak dan kocak! Beneran tipikal film yang cocok ditonton rame-rame sama teman-teman sih. Bisa ketawa bareng dan teriak-teriak bareng. M3gan jelas nambah koleksi boneka Hollywood yang hobi ngebunuh manusia. Udah ada Chucky dan Annabelle yang kerasukan setan, tapi jelas baru M3gan yang nggak pakai elemen supranatural melainkan teknologi AI. Akhirnya ya, ada yang pakai ...

The Menu - Review

Gambar
Terima kasih The Menu, sekarang gue nggak sendirian lagi kalau ngetawain makanan-makanan Gastronomi yang super mahal dan super absurd. The Menu jelas jadi acungan jari tengah terhadap industri makanan mahal yang memisahkan antar-kelas pada khususnya, dan industri kapitalisme pada umumnya. Industru kapitalisme di mana kritikus jadi kekuatan yang tidak tertandingi, dan bahkan bisa menutup usaha - apapun jenis usahanya mulai dari makanan dan minuman, film, dan lain sebagainya. Pertama-tama, The Menu sukses jadi film thriller yang menegangkan. Ralph Fiennes bener-bener serem banget, bahkan nggak perlu make up ala Voldermort. Nggak nyangka dia pakai baju chef dan ngeliat anak buahnya setia buta sama dia aja udah serem banget. Nicolas Hoult sukses banget jadi public enemny. Anya Taylor Joy lagi-lagi sukses jadi primadona film dan ngebawa cerita dengan berakhir tepuk tangan. Film ini jadi tontonan yang menyenangkan sih karena seru banget dan nggak ketebak jalan ceritanya. Bener-bener segar d...

Don't Worry Darling - Review

Gambar
Pretentious banget sih ini film! Hahaha kesel banget gue nontonnya. Padahal di atas kertas film ini punya segudang potensi loh. Ada Olivia Wilde di kursi sutradara yang udah terbukti banget lewat Booksmart (2019) . Ada Florence Pugh juga yang lagi naik daun dan emang juara banget aktingnya. Ada pula Harry Styles yang makin ke sini dapet porsi makin banyak. Ada Chris Pine pula. Ceritanya sih gue suka ya, premisnya menarik. Jelas ngomongin kesetaraan gender dan maskulinitas toksik. Keren sih idenya dan lagi-lagi nunjukkin betapa toksiknya laki-laki apalagi kalau pengangguran. Ada unsur fiksi ilmiah pula, meski di bagian ini gue ngebayangin hal yang lebih keren lagi tapi ternyata twist-nya gitu doang.  Tapi eksekusinya repetitif sih menurut gue. Kaya di tiga perempat film tuh muter-muter aja di situ. Setelah konfliknya muncul pun nggak langsung usaha diselesaikan tapi masih ragu-ragu ragu-ragu keburu jadi sekuel. Pada akhirnya klimaksnya jadi buru-buru dan jadilah gitu doang. Sayang b...

Athena - Netflix Review

Gambar
Wah Athena jelas jadi salah satu film terbaik di tahun 2022 sih. Nyaris sempurna di semua segi, mulai dari visual sampai cerita. Sutradara Romain Gavras memilih konsep visual one take shot ala 1917 (2019) meski nggak full tapi dibagi dalam beberapa segmen. Setiap segmen fokus pada 1 karakter penting yang ngebawa jalan cerita.  Gue sih ngefans banget sama konsep one take long shot kaya gini karena nggak kebayang kompleks teknisnya! Mulai dari penempatan kameranya yang kayaknya dioper-oper dari dolly ke motor atau mobil ke crane. Belum lagi blocking pemain dan ratusan figuran yang ada. Gokil! Ceritanya juga simpel dan fiktif, tapi kita paham jelas bahwa kisah seseorang meninggal karena penanganan brutal dari pihak otoritas bukan berita baru dan sering terjadi di negara manapun. Athena jelas jadi pengingat yang getir dan keras, bukan hanya soal otoritas tapi juga kelas sosial dan betapa sensitifnya kita semua terhadap berita penganiayaan.  Begitu tahu ending yang lumayan twist, n...

The Invitation - Review

Gambar
Nathalie Emmanuel dari Game of Thrones balik lagi nih main film panjang, setelah tampil beberapa kali di franchise Fast & Furious kemarin. Kali ini main di film yang premisnya mirip banget sama Ready of Not (2019 )-nya Samara Weaving. Ada karakter perempuan yang datang ke rumah besar milik keluarga kaya raya, tapi ternyata keluarga itu... Gue rasa writers room pas diskusi film ini terpecah dua kubu; yang satu keluarga cult, satu keluarga vampir. Tapi produser bilang, ya udah kita bikin dua-duanya! Jadi deh dua film ini hahaha. Meski premisnya mirip, tapi sayangnya tidak dengan kualitasnya ya. Kalau dibandingin sama Ready or Not, ini jauuuuh bener. Kenapa sih Hollywood selalu gebleg kalau bikin film vampir. Kaya cuma satu-dua bahkan independen yang berhasil. The Invitation malah lebih jadi film drama romansa dan banyak ngambil elemen Twilight sih. Tiga perempat film ini dihabiskan buat hubungan romansa antara karakter utama dengan tuan rumah. Untung ditutup dengan slasher dan gore y...

Fall - Review

Gambar
Premis dan trailernya sangat menarik ya. Meski gue tahu ini adalah tipikal film thriller gebleg yang masalahnya nggak akan ada kalau karakternya cerdas dikit. Tapi ya in the name of good and originals idea, here we go . Kalau distributor Lionsgate udah punya 47 Meters Down (2017), sekarang mereka punya "600 Meters Up" dengan manjat menara TV setinggi 600 meter ini. Satu kata dari gue untuk menggambarkan film ini; NGILU. Sebagai orang yang suka perutnya ngilu kalau ngeliat ke bawah dari lantai 6 mall Senayan City, nonton film ini sukses bikin ngilu biji gue - berkali-kali. Bangkek emang ya imajinasi gue. Secara nalar dan logika gue tahu yang ada di layar itu adalah hasil CGI yang 95% meyakinkan. Tapi sisanya diisi imajinasi gue yang berontak liar tanpa ampun. Fall juga cukup serius ya ngegarap ceritanya, jadi nggak asal naik dan manjat kaya orang bego. Ada pendalaman karakter yang kuat dan logis sehingga jadi justifikasi yang kuat untuk mereka berdua manjat. Ditambah lagi twis...

The Innocents - Review

Gambar
Gue nonton ini murni baca review singkat di ig story dari eks-boss gue yang udah terpercaya banget lah selera filmnya. Langsung percaya dan ternyata lagi ada di CGV dalam rangka special screening award season. Cuma dapat 1 jam tayang setiap harinya, langsung lah sikat sebelum turun layar. Dari trailernya sih gue ngerasa ada vibe Let the Right One In (2008) ya, sama-sama dari Skandinavian setidaknya. Wah gue suka banget sih sama The Innocents . Atmosfer filmnya lamban dan sunyi gitu, tapi jadi kaya ngasih kesempatan buat penonton untuk ikut terlibat dalam pemikiran dan perasaan anak-anak ini. Jalan ceritanya sendiri sangat unik ya. Menurut gue ini kaya Chronicle (2012) versi anak-anak; apa jadinya jika anak-anak umur 9-12 tahun menemukan dirinya punya kekuatan super. Premis yang sangat menarik! Apalagi secara psikologi perkembangan, apa yang ditampilkan dalam film ini benar-benar akurat dan logis! Manusia punya bagian otak bernama amygdala yang berfungsi sebagai kontrol emosi dan mora...

Antlers - Review

Gambar
Sudah lama gue tunggu-tunggu film ini setelah berkali-kali jadwal rilisnya harus diundur karena pandemi. Beruntung film produksi Searchlight ini ada perjanjian dengan OTT lain untuk harus rilis dulu di bioskop, maka Disney mau nggak mau rilis di bioskop sebelum ke Disney+, meski ditaruh di tanggal yang nggak populer seperti Januari ini.  Jadi ya beruntung juga gue tonton di bioskop, karena beneran serem dan ngagetin dong. Sebuah sensasi yang nggak bakal kena kalau nonton di rumah aja. Kalau seorang Guillermo del Toro megang film beraroma monster udah pasti jaminan mutu sih. Entah isi kepalanya isinya apaan yak. Desain monsternya bener-bener nyeremin dan bikin deg-degan walau cuma denger suaranya aja. Ditambah lagi Antlers ini adalah tipikal film yang sunyi. Minim dialog dan scoring, seakan menghidupkan atmosfer sepi di kota kecil yang jarak antar rumahnya jauh banget. Jadi ketika si makhluk Wendigo, mitos dari Indian, muncul dengan suara beratnya maka akan sukses bikin bulu kuduk m...

Paranoia - Review

Gambar
Sebagai fans Riri Riza dan Mira Lesmana dan selalu suka dengan (hampir) semua karyanya, gue cukup kecewa dengan yang satu ini. Oke ini adalah (percobaan) film thriller pertama karya mereka, tapi jadi terkesan sebagai film aji mumpung harus-produktif-di-saat-pandemi dengan budget rendah. Ceritanya memang kompleks tapi kok nanggung, eksekusi thriller yang sama sekali nggak menegangkan, satu-satunya yang menyelamatkan film ini hanyalah akting Nirina Zubir. Nirina Zubir jelas bersinar terang dengan naskah seperti ini, jauh di atas Lukman Sardi yang hanya menjadi Lukman Sardi tapi agak over-the-top dan Nicsap yang hanya menjadi Nicsap. Sementara yang paling ganggu sih menurut gue Caitlin North-Lewis ya. Keliatan banget aksennya udah usaha dilatih senormal dan se-Indonesia mungkin, tapi masih ada beberapa kata yang kepeleset. Jadi setiap kali dia ngomong, gue malah udah siap-siap takut dia kepleset lidah. Udah gitu jualan belahan banget sih buset entah apa fungsinya, ya masa cuma jadi peman...

Don't Breathe 2 - Review

Gambar
Dengan kesuksesan Don't Breathe 2 (2016) yang disukai baik kritikus dan penonton, gue nggak paham apa pentingnya membuat sekuel dari film dengan plot sederhana kaya gitu. Mau mengulangi plot yang sama juga akan repetitif. Tapi harus gue akui plot yang diberikan di Don't Breathe 2 ini juga nggak ada don't breathe-don't breathe -nya seperti inti dari plot film pertamanya. Melainkan hanya melanjutkan kisah The Blind Man yang piawai mempertahankan diri. Ya menurut gue inti dari film Don't Breathe adalah setidaknya ada karakter yang bahkan jangan sampai bernafas biar nggak ketahuan oleh The Blind Man , dan ini yang nggak ada di sekuelnya. Meski kali ini kita melihat perubahan karakter dari jahat menjadi baik ketika The Blind Man harus menghadapi kelompok penjahat yang sadisnya nggak main-main. Jadi apa jualan Don't Breathe 2 ? Menurut gue sebatas jago berantemnya The Blind Man dalam menghadapi kelompok penjahat ini dan aksi kekerasan yang over-the-top dan sadis...

Blood Red Sky - Review

Gambar
Udah lama banget gue nggak nonton film vampir. Terakhir apa ya sampe lupa, antara Byzantium atau Only Lovers Let Alive. Tapi favorit gue masih Let the Right One In dan 30 Days of Night . Sekarang kita liat gimana Blood Red Sky buatan Jerman ini yang tumben dan berani bikin genre ini. Trailernya bener-bener bikin penasaran sih, apalagi premisnya unik ngambil latar di pesawat yang lagi dibajak. Secara keseluruhan sebenernya seru, menegangkan, dan menghibur. Tapi ada satu hal yang bikin gue gedeg banget; satu karakter yang nyebelin annoying abis apalagi suaranya yang kaya gitu hiiiihhh. Ngerti sih dia tokoh kunci di film ini tapi bisa kan dibikin lebih cool atau adorable gitu dan nggak annoying plisss hih sebel banget. Gue suka sama penggambaran vampire-nya yang masih ngikutin mitos yang ada dan nggak sok-sokan di-update sana-sini. Masih konvensional takut matahari, ultraviolet, digigit langsung nyebar, dan lainnya. Apalagi origin story gimana si ibu bisa "tertular" yang menu...

Saint Maud - Review

Gambar
Jarang-jarang bisa nonton konten A24 di Netflix, dan berbekal deretan ulasan positif di linimasa gue jadi tambah tertarik untuk nonton film "religi" ini. Saint Maud bisa dibilang jatuh di genre drama thriller yang sangat character driven dalam eksplorasi vulgarnya di ranah iman dan kepercayaan.  Tidak ada hal-hal mengerikan atau mengagetkan, Saint Maud benar-benar menceritakan naik turunnya seorang perawat yang baru memiliki iman setelah mengalami satu kejadian traumatis, dan bagaimana kepercayaan itu semakin terpolarisasi ke ranah ekstrim karena faktor kesendirian. Menonton Saint Maud memang harus memiliki kesabaran berlebih berkat pace yang lamban dan atmosfer sunyi. Konflik yang ditonjolkan pun diperkenalkan secara perlahan yang harus membuat penonton mencari dan memahami sendiri lewat berbagai petunjuk yang ditampilkan di layar.  Buat gue pribadi ini adalah kesempatan emas untuk bisa ikut berpartisipasi menyelami emosi dan pikiran dari perawat Maud yang mengalami hal ya...

Run - Review

Gambar
Run adalah salah satu film yang gue tunggu-tunggu, dan ternyata bisa gue tonton di HBO GO. Premisnya sangat-sangat menarik tentang seorang ibu yang merawat anaknya yang sakit dan lumpuh tapi ada keanehan dengan obat-obatan yang diberikan oleh ibunya. Dari awal film gue udah bisa menebak twist-nya tapi tetap bisa gue nikmati setiap keseruan dan ketegangan yang ada. Ngeri banget ngeliat Sarah Paulson akting jadi seorang ibu yang "begitu". Ini kaya jadi playground dia yang paling ekstrim setelah karakter-karakter miripnya di American Horror Story atau Ratched. Range emosinya luar biasa dan bahkan hanya dengan tatapan mata dan senyuman tapi tetep berasa ngeri.  Yang bikin gue takjub adalah aktris Kiera Allen yang berperan sebagai anaknya ternyata memang penderita disabilitas dan pengguna kursi roda sejak kecil. Konon sangat jarang Hollywood beneran kasih cast ke orang-orang disabilitas, jadi yang satu ini layak diberikan hormat. Selain itu perlu diketahui bahwa sindrom yang dider...

Fear Street Part 3: 1666 - Review

Gambar
Ternyata part ketiga ini jauh lebih cadas ketimbang dua prekuel yang lain. Penulisan naskahnya lumayan cerdas karena twist yang ada ternyata bikin kita mau nonton ulang trilogi thriller ini. Cakep sih karena sekuel ketiga ini nggak hanya berlaku sebagai prekuel tapi juga sebagai sekuel untuk menutup kutukan Sarah Fier. Kisah Sarah Fier di tahun 1666 benar-benar mindblowing  yang nggak cuma berisi rentetan plot twist tapi juga kenyataan sifat dasar manusia yang mudah terhasut dan terpengaruhi. Meski bukan kisah baru, tapi kisah orang-orang yang terpengaruh hoax atau fake news ini rasanya tidak akank pernah basi. Malah semakin relevan di situasi pandemi seperti sekarang ini. Yang paling ironi adalah efek negatifnya bertahan hingga 3 dekade kemudian. Bagi para fans slasher/gore mungkin akan terpuaskan di sekuel ketiga ini. Nggak kaleng-kalengan kaya A Classic Horror Story (2021) tapi juga ngasih darah yang lebih dari dua sekuel sebelumnya. Kisah misterinya juga seru dan bikin pena...

A Classic Horror Story - Netflix Review

Gambar
Hype film ini udah dimulai sejak teaser trailernya, setidaknya bagi para fans Hereditary/Midsommar ya. Setelah gue tonton, bener sih ini Italian Midsommar banget. Dari banyak ulasan yang bilang kalau film ini banyak banget berisi referensi film-film horor thriller lainnya, menurut gue justru malah ini disengaja dan memang bertujuan untuk itu. Plot twist-nya sendiri yang bilang kalau ini adalah carbon copy dari film-film horor dan thriller kebanyakan. Jujur gue nontonnya sempet ketiduran sih karena saking lambannya. Ironi banget sih mengingat ada unsur gore atau slasher yang berdarah-darah di film ini. Tapi semua antisipasi gue akan sadis-sadisan ini nggak terbayar dengan baik karena nggak grafis sama sekali doooong. Sama sekali nggak dikasih liat itu mata dicongkel atau kuping diiris. Kaya males banget gitu bikin efek praktikal atau bahkan efek visual. Satu-satunya yang gue puji hanyalah plot twist yang ciamik dan lumayan bikin mangap. Sakit jiwa banget sih emang plotnya meski bukan ha...

Fear Street Part 2: 1978 - Review

Gambar
Gue malah lebih suka Part 2 di tahun 1978 ini ketimbang Part 1 di tahun 1994. Mungkin karena bagian kedua ini fokus pada satu lokasi tempat kemping musim panas dengan anak-anak hingga remaja nyebelin yang jadi korbannya. Nah bagian kedua ini merupakan homage untuk film-film pembunuhan tahun 70-an dan mukanya Sadie Sink dari Stranger Things ini memang bawaan jadul ya jadi pas banget aja gitu untuk latar tahun segitu. Kalau di Part 1: 1994 unsur gory-nya baru nongol di akhir, maka di Part 2: 1978 sudah mulai berdarah-darah dari tengah. Iya awalnya masih sibuk bangun cerita dan relasi antar karakter, termasuk mitos si penyihir Sarah Fier. Yang gue suka adalah di Part 2 ini mitologi kisah Sarah Fier dibuka lebih lebar lagi jadi kita bisa tahu - dan melihat - lebih banyak tentang kutukan sihirnya yang tidak mengenal waktu. Untuk lagu-lagunya masih tetap catchy meski gue udah mulai roaming karena nggak terlalu familiar dengan lagu-lagu tahun 70-an, alias kurang tua. Cara berceritanya sendi...

Fear Street Part 1: 1994 - Review

Gambar
Kalau Netflix ngeluarin franchise film trilogi, ga perlu nunggu setahun sekali rilis ya. Rilisnya langsung seminggu sekali woy! Setres! Tapi trilogi Fear Street ini memang salah satu yang gue tunggu-tunggu sih. Konsepnya menarik banget; satu film bercerita di satu periode waktu. Part 1 berlatar tahun 1994, part 2 berlatar tahun 1978, dan part 3 berlatar tahun 1666. Tiga-tiganya berkisah tentang hal yang sama; kutukan seorang penyihir jahat yang membuat orang jadi pembunuh berdarah dingin. Mantaaaaap! Part 1: 1994 ini yang menurut gue jadi pembuka yang ciamik. Kalau atmosfer tahun 90-an nggak usah didebat lagi ya memang Netflix ini juaranya berkat serial Stranger Things. Nggak tanggung-tanggung, beberapa cast-nya pun diboyong ke sini. Kalau di 1994 ini ada Maya Hawke meski jatuhnya cameo doang. Lagu-lagunya itu loh yang sukses ngebawa atmosfer tahun 90-an, nggak sok indie tapi langsung to the point; pop! Asyik banget dan sukses ngebawa world building jadi jalan cerita lebih meyakinkan...