Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah ...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
The Menu - Review
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
-
Terima kasih The Menu, sekarang gue nggak sendirian lagi kalau ngetawain makanan-makanan Gastronomi yang super mahal dan super absurd. The Menu jelas jadi acungan jari tengah terhadap industri makanan mahal yang memisahkan antar-kelas pada khususnya, dan industri kapitalisme pada umumnya. Industru kapitalisme di mana kritikus jadi kekuatan yang tidak tertandingi, dan bahkan bisa menutup usaha - apapun jenis usahanya mulai dari makanan dan minuman, film, dan lain sebagainya.
Pertama-tama, The Menu sukses jadi film thriller yang menegangkan. Ralph Fiennes bener-bener serem banget, bahkan nggak perlu make up ala Voldermort. Nggak nyangka dia pakai baju chef dan ngeliat anak buahnya setia buta sama dia aja udah serem banget. Nicolas Hoult sukses banget jadi public enemny. Anya Taylor Joy lagi-lagi sukses jadi primadona film dan ngebawa cerita dengan berakhir tepuk tangan.
Film ini jadi tontonan yang menyenangkan sih karena seru banget dan nggak ketebak jalan ceritanya. Bener-bener segar dan gue jadinya kebawa banget sama emosi dan jalan cerita. Ternyata memang The Menu banyak ngasih dark comedy di setiap santapannya. Kritikan sosial yang tajam dan cenderung ngetawain di depan muka industri kuliner khususnya gastronomi dan teman-temannya. Industri yang jelas memperlebar jurang kelas sosial, sekaligus mengaburkan makna esensial dari makanan dan minuman; untuk dimakan dan diminum sebagai pemuas nafsu dan dahaga!
Memang ini dampak dari kapitalisme dan komersialisme yang mengagungkan uang, kekuasaan, dan status sosial di atas segalanya; karya seni, furnitur, bahkan hal sesederhana makanan dan minuman. Suatu barang atau jasa bisa saja dikerek harganya setinggi langit, tapi esensi akan barang tersebut jadi semakin hilang dan kabur. Di mana tujuannya hanya sebagai masturbasi ego baik si pencipta maupun si pembeli.
review film the menu anya taylor joy review the menu anya taylor joy the menu anya taylor joy movie review the menu anya taylor joy film review resensi film the menu anya taylor joy resensi the menu anya taylor joy ulasan the menu anya taylor joy ulasan film the menu anya taylor joy sinopsis film the menu anya taylor joy sinopsis the menu anya taylor joy cerita the menu anya taylor joy jalan cerita the menu anya taylor joy
Guardians of the Galaxy Volume 3 adalah kado perpisahan yang manis dan nyaris sempurna dari sutradara dan penulis naskah James Gunn, sebelum menyebrang ke semesta DC. Volume 3 ini berhasil menutup trilogi GotG dengan sangat baik dan penuh dengan hati. James Gunn juga konsisten fokus mendalami setiap karakter yang ada dalam film ini, tanpa perlu memberi celah crossover dengan film MCU lainnya. Malah menurut gue, GotG ini adalah salah satu trilogi terbaik dalam MCU dengan perkembangan karakter yang sangat dalam dan signifikan. Durasi dua setengah jam nggak berasa sama sekali dengan tempo bercerita yang terbilang cepat. Lamanya durasi ini juga dimanfaatkan dengan sangat baik untuk mendalami setiap karakter yang ada. Praktis setiap karakter punya porsi berlebih dan kita bisa melihat perkembangan karakter yang signifikan, baik dari awal hingga akhir film ini maupun dari GotG pertama. Pilihan soundtracknya juga nggak kalah kece. Memang pilihan lagu dari era 80an dan 90an ini yang jadi ...
Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah ...
Akhirnya ada juga film Super Mario Bros yang bagus dan jadi tribute yang adil untuk gamenya. Sejak permainannya rilis di tahun 1983, kasihan Nintendo (dan kita juga) selalu dapat film adaptasi yang kureng. Apalagi adaptasi film panjang Super Mario Bros tahun 1993, ya ampun! Butuh 30 tahun pula untuk akhirnya ada film adaptasi yang proper. Malah kali ini, pencipta game sekaligus petinggi Nintendo, Shigeru Miyamoto turun tangan langsung bersama rumah produksi Illumination untuk mengerjakan flim animasi ini. Hasilnya memang nggak mengecewakan. Seperti yang terlihat di trailer, animasinya sangat cantik dan luar biasa. Sepertinya memang makin ke sini, kita sudah harus dibuat biasa saja dengan animasi CGI yang gambarnya sudah makin menyerupai kenyataan. Jalan ceritanya memang dibuat untuk anak-anak dan rasanya tidak ditujukan untuk kaum dewasa. Tapi para orang tua dan dewasa muda yang menonton masih bisa terhibur dengan pilihan soundtrack dan bernostalgia dengan berbagai theme song dari pe...
Komentar
Posting Komentar