Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah ...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Eternals - Review
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
-
Setelah drama tarik ulur sensor-sensoran minggu lalu, akhirnya Disney ngalah juga. Nggak cuma satu tapi total tiga adegan bibir ketemu bibir yang dipotong demi memuaskan hasrat LSF. Kocak sih ini kaya mau main aman banget tapi ya udah lah yang penting kita penonton udah bahagia bisa nonton Eternals di layar lebar. Yes banyak adegan yang disyut dengan kamera IMAX meski nggak 100% jadi asyik banget sih ditonton di IMAX.
Untuk filmnya sendiri, kok gue ngerasa Chloe Zhao kena big budget syndrome ya. Biasa megang film no to low budget, sekalinya dikasih budget fantastis kok jadi gitu. Sebenernya menurut gue permasalahan utama ada di storytelling, di mana Eternals ini nyeritain SEMBILAN karakter utama pahlawan super yang semuanya baru buat penonton (setidaknya yang nggak baca komiknya).
Gue paham sih idealismenya untuk menceritakan sembilan-sembilannya sama rata tanpa salah satu yang menonjol - dan ini berhasil. Tapi sayangnya jadi nggak efektif karena dicampur aduk dengan misi dan adegan-adegan aksi penuh efek visual. Ada beberapa adegan yang terlihat repetitif karena membahas bahasan yang sama dengan sebelumnya, meski dengan lawan bicara yang berbeda lagi. Gaya bercerita ini juga jadi pengaruh ke tempo yang jadi berantakan pacing-nya, menjadikan pengalaman menonton yang kurang.
Setelah itu ditutup pula dengan adegan puncak yang anti-klimaks banget. Tipikal adegan klimaks yang "yah-gitu-doang" gitu setelah "menunggu" selama dua setengah jam untuk sampai ke situ. Makin amburadul lah perasaan ini. Untung banget diselamatkan oleh kejutan di tengah credits yang bikin gue jejingkrakan di atas kursi.
Satu lagi komentar gue adalah kok Gemma Chan terlalu datar memimpin film ini ya. Paham sih memang bentukan akting dia begitu tapi rasanya jadi keteteran ngebawa sembilan pahlawan super yang masing-masing punya karakter unik sendiri-sendiri. Untung banget ada Kumail Nanjiani dan Harish Patel yang super kocak dan sukses bikin gue ngakak berkali-kali.
Nah yang gue suka adalah akhirnya betapa diverse-nya pahlawan super yang ada di Marvel Cinematic Universe. Dari latar belakang ras memang sudah lama, tapi ada orientasi seksual sampai bisu tuli yang gue salut banget. Makkari yang sepanjang film berakting hanya dengan bahasa isyarat jelas jadi pemandangan yang sangat unik dan favorit gue!
Ada dua scene after credits ya, yang satu ada di tengah credit dan satu lagi ada di akhir paling ujung. Yang di tengah siap-siap syok aja.
Guardians of the Galaxy Volume 3 adalah kado perpisahan yang manis dan nyaris sempurna dari sutradara dan penulis naskah James Gunn, sebelum menyebrang ke semesta DC. Volume 3 ini berhasil menutup trilogi GotG dengan sangat baik dan penuh dengan hati. James Gunn juga konsisten fokus mendalami setiap karakter yang ada dalam film ini, tanpa perlu memberi celah crossover dengan film MCU lainnya. Malah menurut gue, GotG ini adalah salah satu trilogi terbaik dalam MCU dengan perkembangan karakter yang sangat dalam dan signifikan. Durasi dua setengah jam nggak berasa sama sekali dengan tempo bercerita yang terbilang cepat. Lamanya durasi ini juga dimanfaatkan dengan sangat baik untuk mendalami setiap karakter yang ada. Praktis setiap karakter punya porsi berlebih dan kita bisa melihat perkembangan karakter yang signifikan, baik dari awal hingga akhir film ini maupun dari GotG pertama. Pilihan soundtracknya juga nggak kalah kece. Memang pilihan lagu dari era 80an dan 90an ini yang jadi ...
Sepuluh tahun sejak Evil Dead (2013) karya sutradara Fede Alvarez, pecinta gore pada umumnya dan pecinta franchise Evil Dead pada khususnya diberikan kado banjir darah lagi dari produser Sam Raimi. Konon Evil Dead Rise hendak membangkitkan kembali franchise Evil Dead, sekaligus menghapus remake tahun 2013 dari kontinuiti franchise. Jadi Evil Dead Rise tahun 2023 ini bukan sekuel dari Evil Dead tahun 2013 ya. Pecinta gore dan slasher jelas akan bersorak-sorai sih nonton Evil Dead Rise ini. Puas banget dan maksimal setiap adegan darah dan dagingnya. Saking maksimal sadisnya, bisa bikin kita semua ketawa ngilu, entah nonton bareng teman-teman atau penonton lainnya. Gila sih sadisnya grafis banget, sayang beberapa adegan disensor di bioskop Indonesia. Untuk jalan ceritanya sendiri memang sederhana dan terpaku di satu tempat saja. Tapi memang jualannya franchise Evil Dead adalah gore dan slasher, jadi film ini sukses untuk to the point dan memaksimalkan jualanny adengan sangat baik. Kalau ...
Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah ...
Komentar
Posting Komentar