Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah ...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Vortex - Europe on Screen Review
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
-
Gue udah aware dengan sepak terjangnya sutradara dan penulis naskah Gaspar Noe, tapi belum ada satu pun filmnya yang gue tonton karena keterbatasan akses legal. Begitu film terbarunya, Vortex (2021), hadir di festival film Europe on Screen langsunglah nggak pikir panjang lagi. Kosongin jadwal dan niatin ke Jakarta demi nonton film ini secara legal dan di layar lebar! Plus udah siapin mental juga karena kayaknya Vortex ini punya aura yang mirip dengan Amour-nya Michael Haneke.
Sepanjang film minim dialog dan sunyi, bener-bener ngikutin keseharian pasangan lansia ini mulai dari bangun tidur, ngopi, beberes rumah, kerja, sampai tidur lagi. Beberapa drama yang dihadirkan pun sangat membumi, dan nggak ada kejadian overdramatis seperti di film-film Hollywood. Kondisi oma yang makin menurun, tapi malah membahayakan mereka berdua sekaligus. Ditambah sang anak semata wayang yang masih terjebak dalam jerat narkoba.
Emang luar biasa sih sineas yang satu ini, visualnya sederhana tapi ciamik dan efektif untuk jalan cerita. Tentang pasangan lansia di usia senja yang sang suami harus merawat istrinya yang terkena demensia. Dibungkus dengan aspect ratio kotak yang setiap ganti adegan ada blank hitam persis seperti proyektor jaman kuliahan. Lalu ada dua adegan yang disajikan di kiri kanan layar, jadi kita bisa lihat satu momen dari dua sudut pandang.
Gue nggak paham kenapa konsep visual seperti ini yang gue pilih, tapi yang gue tangkep adalah untuk ngasih kesan claustrophobic ke penonton. Dengan aspect ratio yang "sempit", ditambang pasangan lansia ini tinggal di apartemen yang sempit dan banyak barang yang mereka kumpulkan seumur hidupnya. Buku-buku berbaris di lemari sampai ke atas, bahkan ada tumpukan buku di sofa yang jadinya menyisakan ruang hanya untuk satu orang duduk.
Kita bisa ngeliat gimana kedua karakter ini bergerak lamban menyelami setiap barang hasil pencapaian mereka, tetapi kadang kala juga terasa sesak. Apalagi keengganan untuk pindah ke panti jompo karena barang-barang yang banyak dan bertumpuk itu. Dilema pun terjadi, menjalani hari-hari senja di rumah tapi mengorbankan keselamatan, atau meninggalkan segalanya demi hidup terjamin di panti jompo.
Buat gue yang suka banget dengan Amour (2012) karya Michael Haneke, gue masih lebih suka dengan Amour ketimbang Vortex. Apalagi dua film ini membawa tema yang sama; usia senja dan menghadapi kematian di depan mata. Vortex memang vulgar dan apa adanya menampilkan usia senja selebar-lebarnya, tapi Amour kelewat brutal dalam memberikan pilihan endingnya. Meski Vortex masih bisa menawarkan keindahan visual dengan konsep yang sangat menarik.
review film vortex gaspar noe review vortex gaspar noe vortex gaspar noe movie review vortex gaspar noe film review resensi film vortex gaspar noe resensi vortex gaspar noe ulasan vortex gaspar noe ulasan film vortex gaspar noe sinopsis film vortex gaspar noe sinopsis vortex gaspar noe cerita vortex gaspar noe jalan cerita vortex gaspar noe
Guardians of the Galaxy Volume 3 adalah kado perpisahan yang manis dan nyaris sempurna dari sutradara dan penulis naskah James Gunn, sebelum menyebrang ke semesta DC. Volume 3 ini berhasil menutup trilogi GotG dengan sangat baik dan penuh dengan hati. James Gunn juga konsisten fokus mendalami setiap karakter yang ada dalam film ini, tanpa perlu memberi celah crossover dengan film MCU lainnya. Malah menurut gue, GotG ini adalah salah satu trilogi terbaik dalam MCU dengan perkembangan karakter yang sangat dalam dan signifikan. Durasi dua setengah jam nggak berasa sama sekali dengan tempo bercerita yang terbilang cepat. Lamanya durasi ini juga dimanfaatkan dengan sangat baik untuk mendalami setiap karakter yang ada. Praktis setiap karakter punya porsi berlebih dan kita bisa melihat perkembangan karakter yang signifikan, baik dari awal hingga akhir film ini maupun dari GotG pertama. Pilihan soundtracknya juga nggak kalah kece. Memang pilihan lagu dari era 80an dan 90an ini yang jadi ...
Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah ...
Akhirnya ada juga film Super Mario Bros yang bagus dan jadi tribute yang adil untuk gamenya. Sejak permainannya rilis di tahun 1983, kasihan Nintendo (dan kita juga) selalu dapat film adaptasi yang kureng. Apalagi adaptasi film panjang Super Mario Bros tahun 1993, ya ampun! Butuh 30 tahun pula untuk akhirnya ada film adaptasi yang proper. Malah kali ini, pencipta game sekaligus petinggi Nintendo, Shigeru Miyamoto turun tangan langsung bersama rumah produksi Illumination untuk mengerjakan flim animasi ini. Hasilnya memang nggak mengecewakan. Seperti yang terlihat di trailer, animasinya sangat cantik dan luar biasa. Sepertinya memang makin ke sini, kita sudah harus dibuat biasa saja dengan animasi CGI yang gambarnya sudah makin menyerupai kenyataan. Jalan ceritanya memang dibuat untuk anak-anak dan rasanya tidak ditujukan untuk kaum dewasa. Tapi para orang tua dan dewasa muda yang menonton masih bisa terhibur dengan pilihan soundtrack dan bernostalgia dengan berbagai theme song dari pe...
Komentar
Posting Komentar