Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah ...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Midnight Mass - Series Review
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
-
Semenjak The Haunting of Hill House dan The Haunting of Bly Manor, gue sudah menaruh kepercayaan tinggi pada sutradara dan penulis naskah Mike Flanagan. Forte dia memang di serial, maka serial apapun yang dia buat sudah pasti akan gue tonton! Termasuk yang satu ini, Midnight Mass yang sudah jadi pembicaraan positif di linimasa. Dengan hanya tujuh episode, yang kenapa tujuh mungkin karena angka 7 sangat alkitabiah mengingat serial ini memang sangat kental dengan hal Kristiani. Sebisa mungkin gue akan menghindari spoiler biar tulisan ini bisa diakses baik yang belum maupun yang sudah nonton. Jadi mari kita bahas!
Gue harus kasih tepuk tangan sambil berdiri untuk kejeniusan Mike Flanagan dalam nulis naskah serial! Aslik ya itu orang nulisnya sambil ngobat atau ngeganja atau apa sih kok bisa se-trippy itu. Midnight Mass ini seperti dialog antara tiga orang; satu fanatik agama, satu agnostik, satu yang biasa-biasa aja dalam beragama. Dibilang serial horor juga nggak bisa karena unsur horornya dikit banget dan cenderung jadi latar belakang aja. Lebih cocok ini dibilang serial drama-agama sih karena banyak banget ngebahas relasi antara manusia dengan Tuhan dan antara manusia dengan agamanya.
Jadi ekspektasi untuk nonton serial horor semacam The Haunting yang rasanya perlu dikalibrasi dulu, karena Midnight Mass sangat dialog heavy. Banyak banget monolog terutama di episode 1 - 3 yang sibuk ngebangun karakter dan ngebangun kasus. Meski kemudian misteri mulai terungkap di episode 4 dan 5, dan ditutup dengan sangat pecah di episode 6 dan 7. Monolog-monolog yang ada sangat representatif buat orang-orang kebanyakan; mulai dari mereka yang beragama sampai yang nggak. Anggaplah ini kaya dialog antara konservatif dan progresif di film The Two Popes.
Sebagai umat Katolik yang dulu pernah aktif di gereja dan sekarang nggak, gue sangat bisa memahami dan angguk-angguk setuju dengan setiap dialog yang terlontar dan setiap karakter yang digambarkan di serial ini. Gue berasa Mike Flanagan bukan cuma mau mengkritik relasi orang dengan agamanya secara umum tapi juga secara khusus mengkritik Gereja Katolik berikut interaksi antara romo dengan umatnya.
Secara umum, iya kebanyakan orang memang seperti domba yang hilang - sangat mudah percaya dengan satu sosok yang dianggap lebih; lebih tahu, lebih beriman, lebih berpengalaman, lebih punya kekuatan. Makanya akan sangat mudah menggiring massa dengan melakukan beberapa hal; khotbah atau mukjizat. Sekaligus ngasih perenungan, apa benar baru percaya Tuhan ketika melihat dan merasakan mukjizat?
Secara khusus di gereja Katolik, gue cuma bisa mesem-mesem sendiri ngeliat Midnight Mass yang punya karakter romo yang didewakan oleh umatnya. Ditambah ada satu-dua umat yang sebegitu fanatiknya sehingga jadi perpanjangan tangan romo, dan terkadang sampai ke ranah blind faith. Dari pengalaman gue, semua hal itu benar adanya terjadi.
Balik lagi ya romo juga manusia lah ya, yang kadang suka kebablasan karena "merasa" punya kuasa. Manusia juga manusia yang mudah terbawa arus apalagi mereka yang fanatik, jadi gampang percaya aja tanpa satu titik keraguan pun untuk mempertanyakan - apalagi masuk ke ranah moral. Belum lagi hobi bawa-bawa ayat Alkitab sebagai dasar atau tembok pembenaran. Ngeri ngeliat gimana orang bisa bawa ayat demi membunuh orang lain, dan bisa terjadi di agama manapun.
Semua kunci jawabannya ada di episode 7 sebagai pamungkas. Mulai dari isu "romo hanyalah perpanjangan tangan Tuhan" sampai ke motivasi terdalam kenapa si Father Paul bawa "wabah" ke pulau Crockett. Ini juga sangat sangat bisa terjadi di dunia nyata bahwa skandal antara romo dengan umat perempuan itu nyata, bahkan Indonesia punya film Ave Maryam.
Pada intinya, agama dan Tuhan dan ayat Alkitab nggak pernah salah dan balik lagi ke interpretasi manusia terhadap itu semua. Ada Father Paul yang menginterpretasi keajaiban yang dia terima sebagai kuasa Tuhan, ada Beverly Keane si umat fanatik penjahat sejati menginterpretasikan keajaiban di pulau Crockett sebagai mukjizat, dan seterusnya. Tapi untung masih ada orang-orang yang punya kompas moral yang baik yang bisa memilah mana yang "kuasa Tuhan" dan mana yang "kuasa setan".
review film midnight mass Mike Flanagan review midnight mass Mike Flanagan midnight mass Mike Flanagan movie review midnight mass Mike Flanagan film review resensi film midnight mass Mike Flanagan resensi midnight mass Mike Flanagan ulasan midnight mass Mike Flanagan ulasan film midnight mass Mike Flanagan sinopsis film midnight mass Mike Flanagan sinopsis midnight mass Mike Flanagan cerita midnight mass Mike Flanagan jalan cerita midnight mass Mike Flanagan
Guardians of the Galaxy Volume 3 adalah kado perpisahan yang manis dan nyaris sempurna dari sutradara dan penulis naskah James Gunn, sebelum menyebrang ke semesta DC. Volume 3 ini berhasil menutup trilogi GotG dengan sangat baik dan penuh dengan hati. James Gunn juga konsisten fokus mendalami setiap karakter yang ada dalam film ini, tanpa perlu memberi celah crossover dengan film MCU lainnya. Malah menurut gue, GotG ini adalah salah satu trilogi terbaik dalam MCU dengan perkembangan karakter yang sangat dalam dan signifikan. Durasi dua setengah jam nggak berasa sama sekali dengan tempo bercerita yang terbilang cepat. Lamanya durasi ini juga dimanfaatkan dengan sangat baik untuk mendalami setiap karakter yang ada. Praktis setiap karakter punya porsi berlebih dan kita bisa melihat perkembangan karakter yang signifikan, baik dari awal hingga akhir film ini maupun dari GotG pertama. Pilihan soundtracknya juga nggak kalah kece. Memang pilihan lagu dari era 80an dan 90an ini yang jadi ...
Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah ...
Akhirnya ada juga film Super Mario Bros yang bagus dan jadi tribute yang adil untuk gamenya. Sejak permainannya rilis di tahun 1983, kasihan Nintendo (dan kita juga) selalu dapat film adaptasi yang kureng. Apalagi adaptasi film panjang Super Mario Bros tahun 1993, ya ampun! Butuh 30 tahun pula untuk akhirnya ada film adaptasi yang proper. Malah kali ini, pencipta game sekaligus petinggi Nintendo, Shigeru Miyamoto turun tangan langsung bersama rumah produksi Illumination untuk mengerjakan flim animasi ini. Hasilnya memang nggak mengecewakan. Seperti yang terlihat di trailer, animasinya sangat cantik dan luar biasa. Sepertinya memang makin ke sini, kita sudah harus dibuat biasa saja dengan animasi CGI yang gambarnya sudah makin menyerupai kenyataan. Jalan ceritanya memang dibuat untuk anak-anak dan rasanya tidak ditujukan untuk kaum dewasa. Tapi para orang tua dan dewasa muda yang menonton masih bisa terhibur dengan pilihan soundtrack dan bernostalgia dengan berbagai theme song dari pe...
Komentar
Posting Komentar